Aku bertakbiratul ihram dengan mengangkat kedua tanganku setinggi pundak/bahu, sedangkan saudaraku mengangkat kedua tangannya sejajar telinga.

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Aku melihat Rasulullah saw. mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak ketika memulai salat, sebelum rukuk dan ketika bangun dari rukuk. Beliau tidak mengangkatnya di antara dua sujud. (Shahih Muslim No.586)

“Sesungguhnya Rasulullah SAW dahulu apabila bertakbir, mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan dua telinganya. Dan apabila akan ruku’ mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dua telinganya, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ dengan mengucap Sami’alloohu liman hamidah berbuat seperti itu”. [HR Ahmad dan Muslim, dan lafadh bagi keduanya], “Sehingga kedua tangannya itu sejajar dengan kedua telinganya”. [Dalam Nailul Authar juz II, hal 205]

Aku tidak membaca Surat Al-Fatihah (di belakang imam pada rokaat) ketika imam membaca Al-Fatihah dan Ayat-ayat Al-Qur’an secara jahr (diperdengarkan), sedangkan saudaraku tetap membacanya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :”Dijadikan imam itu hanya untuk diikuti. Oleh karena itu apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian, dan apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil memperhatikan bacaan imam itu)…” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud no. 603 & 604. Ibnu Majah no. 846, An-Nasa-i. Imam Muslim berkata: Hadits ini menurut pandanganku Shahih).

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al A’raaf {7}: 204)

Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra.: Bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda: Orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah, tidak sah salatnya. (Shahih Muslim No.595)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: Tidak ada salat kecuali dengan bacaan surat Al-Fatihah. (Shahih Muslim No.599)

Aku turun untuk bersujud dengan meletakkan lututku (ke lantai) terlebih dahulu (sebelum tangan), sedangkan saudaraku meletakkan tanggannya duluan (sebelum lutut).

Dari Waa’il bin Hujr, ia berkata,” Saya melihat Rasulullah صلی الله عليه وسلم apabila bersujud, beliau meletakkan dua lututnya sebelum dua tangannya. Dan apabila bangkit (dari sujud), beliau mengangkat dua tangannya sebelum dua lututnya”. [HR Al-Khamsah kecuali Ahmad, dan lafadh itu bagi At Tirmidzi juz I, hal 168]

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah bersabda,”Apabila seseorang diantara kalian sujud, maka janganlah kalian mendekam sebagaimana mendekamnya unta, dan hendaklah meletakkan kedua tangannya kemudian dua lututnya”. [HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’i]

Aku duduk sebentar sebelum berdiri menuju rokaat genap, sedangkan saudaraku langsung berdiri (setelah sujud).

Dari Malik bin Al-Huwairits, sesungguhnya ia melihat Nabi صلی الله عليه وسلم melakukan shalat. Maka apabila bangkit dari raka’at yang ganjil dari shalatnya, beliau tidak bangkit sehingga duduk dengan sempurna”. [HR Al Jama’ah, kecuali Muslim dan Ibnu Majah, Nailul Authar juz II, hal 300]

Aku bangkit menuju rokaat berikutnya dengan mendahulukan tanganku  (sebelum lutut) dan menekankannya pada pahaku, sedangkan saudaraku mendahulukan mengangkat lututnya sebelum tangannya.

Dari Waail bin Hujr, ia berkata,”Sesungguhnya Nabi صلی الله عليه وسلم ketika akan sujud, dua lututnya lebih dulu mengenai bumi sebelum dua tangannya. Dan ketika sujud, beliau meletakkan dahinya di antara dua tapak tangannya dan menjauhkan (tangannya) dari ketiaknya. Dan apabila bangkit, beliau bangkit atas dua lututnya dan menekan pada dua pahanya”. [HR Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz II, hal 300]

Dari Waail bin Hujr, ia berkata,”Aku melihat Nabi صلی الله عليه وسلم apabila sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila bangkit, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. [HR Abu Dawud juz I, hal 222]

Aku duduk at-Tahiyat sambil mengarahkan telunjuk tangan kananku lurus ke arah kiblat, sedangkan saudaraku mengerak-gerakkan telunjuk tangan kanannya.

Dari Ibnu Umar, ia berkata,”Adalah rasulullah صلی الله عليه وسلم apabila duduk dalam shalat (duduk at-tahiyyat), beliau meletakkan dua tangannya pada dua lututnya, dan mengangkat jarinya yang kanan, yaitu jari yang di sebelahnya ibu jari (jari telunjuk), lalu beliau berdo’a dengannya. Sedangkan tangannya yang kiri pada lututnya yang kiri dengan menghamparkan padanya”. Dan dalam suatu lafadh,”Adalah beliau صلی الله عليه وسلم apabila duduk di dalam shalat (duduk at-tahiyyat), meletakkan tapak tangannya yang kanan pada pahanya yang kanan dan menggenggam jari-jarinya semuanya, dan beliau berisyarat dengan jarinya, yaitu jari yang sebelahnya ibu jari (jari telunjuk). Dan beliau meletakkan tapak tangannya yang kiri pada pahanya yang kiri”. [HR Ahmad, Muslim, dan An Nasa’i, Nailul Authar juz II, hal 316]

dari Waail bin Hujr, bahwasanya ia berkata dalam menerangkan shalatnya Rasulullah صلی الله عليه وسلم,”Kemudian beliau duduk dengan duduk pada kakinya yang kiri, dan meletakkan tapak tangannya yang kiri pada pahanya dan lututnya yang kiri dan menjadikan ujung sikunya yang kanan pada pahanya yang kanan. Kemudian menggenggam dua jarinya (jari manis dan jari kelingking) dan membentuk lingkaran (dengan menghubungkan jari tengah dengan ibu jari) kemudian beliau mengangkat (berisyarat) dengan jarinya (jari telunjuk), maka saya melihat beliau menggerak-gerakkannya dan berdo’a dengannya”. [HR Ahmad, An Nasa’i, dan Abu Dawud, Nailul Authar juz II, hal 315]

Meskipun sholat kita berbeda, kita tetap bersaudara. Buktinya, kita tetap berjamaah bersama. Tidak mungkin kita saling memerangi, memusuhi, atau saling menjelekkan hanya karena perbedaan ini.


Catatan:

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Ketika selesai perang Ahzab, Rasulullah صلی الله عليه وسلم berseru kepada kami: Tidak ada seorang pun yang salat Zuhur kecuali di daerah Bani Quraidhah! Orang-orang yang khawatir tertinggal waktu salat, mereka segera salat sebelum tiba di daerah Bani Quraidhah. Tetapi yang lain mengatakan: Kami tidak akan melakukan salat kecuali di tempat yang telah diperintahkan oleh Rasulullah saw. walaupun waktu salat berlalu. Ternyata Rasulullah صلی الله عليه وسلم Tidak menyalahkan keduanya. (Shahih Muslim No.3317)

Download As PDF