Ibnul Qayyim telah menguraikan secara gamblang, bagaimana iblis dan bala tentaranya menguasai manusia. Mudah-mudahan anda menjadi yakin bahwa sesungguhnya anda dalam keadaan perang sengit yang terus berkecamuk dengan musuh Allah: iblis dan bala tentaranya.

Raja kekafiran itu berkata kepada para pembantu dan tentara-tentara setan, “Masuklah ke dalamnya (hati) sesuai dengan nafsu dan selera yang ia mau. Lihatlah tempat-tempat kesukaannya, dan apakah yang ia sukai. Siapkan dan iming-imingilah dengan barang kesukaannya.

Gambarkanlah bentuk kekasihnya, baik pada saat terjaga maupun tertidur. Jika ia sudah mulai tenang dan diam serta tidak menyerang lagi, lemparkanlah kail dan pengait syahwat serta sederet impian semu, kemudian seretlah ia ke hadapan kalian.

Jika hati telah terperdaya dan mengikuti keinginan kalian, berarti kalian telah menguasai gerbang-gerbang hati, yaitu mata, telinga, lidah, mulut, tangan, dan kaki.

Kuasailah gerbang-gerbang itu dengan penuh kewaspadaan. Selama kalian bias masuk dari pintu nafsu ke dalam hati, ia menjadi tiada berdaya, alias tertawan, dan penuh luka. Jangan sampai kalian biarkan ada tentara lain yang merebut gerbang itu dari tangan kalian. Karena mereka akan mengusir kalian dari singgasana hati.

Jika kalian menang, bersungguh-sungguhlah untuk melemahkan dan memperdayakan serangan tentara-tentara hati supaya mereka tidak bias merebut kembali hati yang sudah kita kuasai. Tentara-tentara itu tidak akan berpengaruh apa-apa jika kita sudah memperlemahnya.

Jika kalian sudah menguasai gerbang-gerbang ini, cegahlah gerbang penglihatannya agar tidak digunakan untuk berpikir. Jadikanlah pandangannya itu hanya untuk menonton hiburan atau berhura-hura dan menganggap baik segala hal yang buruk.

Jika pandangannya tetap digunakan untuk berpikir, rusaklah dia dengan pandangan yang melalaikan, syahwat, dan menganggap baik segala hal. Senjata semacam itulah yang paling dekat, paling mengena, dan paling disenangi oleh nafsu.

Kuasailah mata, karena dari situlah kalian akan mencapai tujuan kalian. Sesungguhnya, tidak ada sesuatu paling jitu yang digunakan untuk merusak bani Adam melebihi penglihatannya.

Karena melalui penglihatan mata, aku taburkan benih-benih syahwat dalam hatinya. Aku sirami ia dengan air angan-angan, dan aku terus meniupkan angan-angan dan janji-janji sampai akarnya menjadi kuat, kemudian aku kendalikan ia dengan kendali syahwat hingga benar-benar terlepas dari segala penjagaan dan pengawasan tentara-tentara hati.

Oleh karena itu, jangan kalian remehkan gerbang hati yang bernama mata ini, hancurkan ia sekuat tenaga kalian, dan jadikan pandangan mata masalah yang remeh baginya. Katakana kepadanya, “seberapa besarkah pengaruh pandangan matamu yang sanggup menyerumu untuk bertasbih kepada Al-Khaliq?”

Selanjutnya, kuasai dan jagalah telinganya agar tidak dimasuki hal-hal yang akan merusak usaha kalian, bekerja keraslah agar tiada hal yang masuk ke dalam telinga, kecuali yang batil. Sesuatu yang batil itu ringan bagi nafsu bani Adam, sangat mengasyikkan dan menyenangkannya.

Pilihlah kata-kata yang indah dan manis untuk telinga dan pikirannya. Campurlah dengan hal yang disukai nafsunya. Pancinglah dengan kata-kata, jika ia mendengarkannya, bisikkanlah kata-kata yang lain. Setiap kali kalian dapati telinga itu menganggap baik segala yang kalian sampaikan, bakarlah nafsunya dengan menyebut kata-kata itu.

Jangan sekali-kali kalian membiarkan apapun memasuki gerbang ini, baik berupa firman Allah, sabda Rasulullah SAW, maupun nasehat orang-orang bijak. Jika kalian kalah sehingga kata-kata baik itu berhasil memasuki telinga, halangilah ia dari memahami dan memikirkan secara mendalam semua kata-kata hikmah itu atau menerimanya sebagai nasehat; baik dengan memasukkan pemahaman yang berlawanan maupun dengan mengangkat dan membesar-besarkannya. [1]

Kemudian setan melanjutkan, “Bergeraklah kalian ke celah lisan, ia adalah celah terbesar. Lisan adalah celah pertama menuju sang raja. Ajaklah ia untuk membicarakan hal-hal yang merusak dan tidak bermanfaat baginya. Cegahlah agar ia tidak mengucapkan sesuatu yang bermanfaat, seperti zikir kepada Allah, beristighfar kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, menasehati hamba-Nya, dan berbicara dengan ilmu yang bermanfaat. Misi kalian dalam menduduki celah ini ada dua hal, tidak penting misa mana dari keduanya yang berhasil kalian lakukan, karena keduanya sama:

Pertama: Berbicara hal yang batil. Orang yang berbicara dengan hal-hal yang batil adalah saudara kalian, ia adalah tentara dan pembantu terhebat kalian.

Kedua: Diam dan tutup mulut dengan kebenaran yang ia ketahui. Orang seperti ini juga saudara kalian. Bedanya yang ini bisu, sedang saudara kalian yang pertama bisa berbicara. Boleh jadi yang kedua ini lebih bermanfaat untuk kalian.”

Setan melanjutkan, “Ketahuilah, pembantu terbesar kalian untuk menduduki celah ini adalah berdamai dengan nafsu ammarah. Kalian harus saling membantu dengan nafsu ini. Dukunglah ia untuk melawan nafsu muthmainnah, berusaha keraslah untuk mematahkan dan memudarkan kekuatannya. Tiada jalan kecuali dengan memotong pasokan untuknya.

Wahai pasukanku! Manfaatkanlah dua tentara agung yang kalian tidak akan kalah dengan keberadaan keduanya.

Pertama: Tentara yang bernama ghaflah (lalai). Buatlah hati bani Adam melalaikan Allah dan alam akhirat dengan segala cara. Ia merupakan sesuatu yang paling bisa membuat tujuan kalian tercapai. Jika hati sudah lalai dari Allah, dengan mudah kalian akan mengalahkannya.

Kedua: Tentara yang bernama syahwat. Hiasilah syahwat di bani Adam dan percantiklah ia di mata mereka. Gempurlah ia dengan kedua tentara ini.”

Ad-Dâ’ wa Ad-Dawâ’, dengan perubahan redaksi.
Dari buku: JANGAN SHALAT BERSAMA SETAN!
Syaikh Mu’min Al-Haddad
Penerbit: AQWAM, Solo 2007.


[1] Maksudnya, tiada lain bahwa setan berada di celah telinga, ia memasukkan hal-hal yang membahayakan manusia dan tidak berguna baginya. Kemudian, ia melarang masuknya sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Jika ada hal baik masuk yang lepas dari pengawasannya, maka segera ia merusaknya.

Iklan